Senin, 25 April 2011

Dampak Pendapatan Nasional Bagi Luar negri

Pendapatan nasional tidak hanya bersumber dari kegiatan produksi barang atau jasa yang berasal dari dalam negri saja. Ada sumber lain yang menyokong porsi pendapatan nasional secara keseluruhan. Contoh nyatanya adalah TKI ( Tenaga Kerja Indonesia ).

Seperti yang sudah diketahui bersama, bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang banyak menyalurkan tenaga kerjanya keluar negri. Entah itu di perkebunan, industry, rumah tangga, dan lain sebagainya. Mereka adalah orang-orang yang akan meningkatkan penerimaan devisa negara. Jadi sudah sepantasnyalah mereka dijuluki pahlawan devisa.

Tapi dalam kenyataanya, ternyata para pahlawan devisa ini sepertinya kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya kasus yang menimpa para TKI ini ditempat kerjanya. Beberapa diantaranya yang sering terjadi adalah kasus penganiyayaan dan penyiksaan yang kadangkala berujung kematian. Respon pemerintah dianggap kurang cepat dalam menangani kasus ini.

Meskipun ada beberapa dari para TKI ini yang masuk kenegara orang secara illegal. Tetapi sudah sewajarnya pemerintah memberikan pengarahan dan penjelasan kepada mereka untuk menghindari hal tersebut. Kebanyakan dari para TKI ini memilih opsi bekerja diluar negri dikarenakan mereka merasa sulit untuk mendapatkan lapangan pekerjaan didalam negri. Hal tersebut disatu sisi memang cukup miris jika dilihat, tetapi hal tersebut mungkin tidak dapat dihindari. Mengingat jumlah penduduk di Indonesia yang tergolong cukup tinggi.

Salah satu solusi yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah dengan menciptakan simbiosis mutualisme ( kerja sama yang saling menguntungkan ) dengan para TKI ini. Caranya adalah dengan memberikan pembekalan bagi para calon TKI, yaitu standar pelatihan praktek kerja lapangan yang akan menunjang kinerja dari para TKI diluar negri. Baik itu pelatihan dalam bentuk mental, fisik, psikis, dan lain sebagainya. Simbiosis ini nantinya akan memberikan hasil devisa bagi pemerintah dan pendapatan pribadi bagi para calon TKI. Hal tersebut tentunya akan sangat menguntungkan kedua belah pihak.

Selain itu pemerintah sangat diharapakan mampu memperbaiki kinerja dari birokrat-birokrat yang mengurusi masalah pengiriman dan pemulangan TKI ini. Karena sering ditemukan kasus dimana para TKI ketika pulang kedalam negri akan mendapat pungli ( pungutan liar ). Hal tersebut menunjukkan bahwa kualitas pelayanan dari birokrasi ini belumlah maksimal.

Dampak pendapatan nasional bagi luar negri selain mempengaruhi nilai devisa negara adalah sebagai indikator untuk invesatasi bagi negara-negara didunia. Dapat dikatakan suatu negara yang memiliki pendapatan nasioanal yang tergolong cukup baik atau tinggi, dianggap memiliki situasi dan kondisi perekonomian yang sehat.

Dalam beberapa konsep perhitungan pendapatan nasional, tingkat konsumtif ( pendekatan pengeluaran ) dapat dijadikan salah satu faktor penentu dalam perhitungan pendapatan nasional. Hal tersebut tentunya akan dapat menarik minat para negara investor untuk menanamkan modalnya dinegara bersangkutan. Banyaknya arus investasi yang masuk tentunya akan dapat menunjang kegiatan pembangunan negara, sehingga hal tersebut akan dapat memperkokoh tatanan sistem perekonomian yang sudah ada.

Dampak Pendapatan Nasional Bagi Dalam Negri

Pendapatan nasional merupakan jumlah seluruh pendapatan yang diterima oleh masyarakat suatu negara selama satu tahun. Pendapatan nasional berbagai negara didunia berbeda-beda. Hal tersebut dikarenakan kondisi perekonomian setiap negara juga berbeda-beda. Negara dengan fondasi perekonomian yang kuat seperti Amerika Serikat, Jepang, Singapura tentu memiliki pendapatan nasional yang lebih tinggi.

Dari pendapatan nasional ini dapat dikembangkan rumusan mengenai pendapatan perkapita. Pendapatan perkapita adalah besarnya pendapatan rata-rata penduduk disuatu negara. Pendapatan perkapita didapatkan dari hasil pembagian pendapatan nasional dibagi dengan jumlah penduduk negara tersebut. Dari pendapatan perkapita ini, maka dapat dijadikan sebagai indikator penggolongan perekonomian suatu negara. Yaitu negara maju, berkembang, dan terbelakang. Tentunya ada batasan minimal pendapatan perkapita yang harus dipenuhi untuk masuk kedalam salah satu kategori tersebut.

Indonesia, negara dengan segala sumber daya alam yang melimpah digolongkan sebagai negara berkembang. Hal tersebut memang cukup disayangkan, mengingat potensi sumber daya alamnya yang sangat besar. Hal tersebut mungkin dapat terjadi karena kurang cakapnya pengelolaan terhadap segala potensi sumber daya alam yang dimiliki.

Pendapatan nasional bagi suatu negara dapat berarti banyak bagi keadaan dalam negrinya. Salah satu manfaat yang cukup familiar adalah untuk mengetahui pendapatan rata-rata yang diperoleh oleh penduduk disuatu negara ( pendapatan perkapita ). Dari pendapatan perkapita ini, maka suatu negara dapat menentukan berbagai kebijakan perekonomian dalam negri.

Meskipun begitu, perhitungan pendapatan perkapita ini sering dianggap sebagai metode yang kurang realistis. Karena tidak menggambarkan kondisi sebenarnya dari pendapatan rata-rata masyarakat. Hal tersebut dikarenakan dalam perhitungannya, pendapatan perkapita mengabaikan beberapa faktor. Salah satunya adalah penyebaran pendapatan perkapita yang tidak merata, sehingga masyarakat yang memiliki pendapatan dibawah pendapatan perkapita, dapat dianggap memiliki pendapatan yang sesuai dengan perhitungan pendapatan perkapita.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dari pendapatan perkapita ini nantinya dapat dijadikan sebagai sebuah indikator bagi pemerintah untuk menentukan arah kebijakan perekonomian. Misalnya kebijakan pemerintah tentang raskin yang merupakan salah satu kebijakan pemerintah yang memberikan beras secara cuma-cuma kepada masyarakat dengan tingkat pendapatan yang rendah. Selain itu tentunya adalah kebijakan subsidi BBM ( Bahan Bakar Minyak ), dan lain sebagainya.

Selain kedua hal itu, tentunya salah satu manfaat utama dari pendapatan nasional ini adalah untuk mengukur tingkat kemakmuran masyarakat suatu negara. Semakin tinggi tingkat kemakmuran disuatu negara, maka akan menunjukkan kemajuan suatu bangsa pada dunia. Yang secara tidak langsung akan mencerminkan kualitas sumber daya manusia negara tersebut. Kualitas sumber daya manusia yang tinggi dapat meningkatkan nilai produktivitas kerja suatu negara, sehingga kebutuhan akan impor dari luar negri dapat dikurangi. Dan tentunya hal tersebut akan sangat membantu dalam upaya membangun negara.

Dampak pendapatan terhadap dalam negri sangatlah vital, karena hal tersebut tentunya akan menentukan arah kebijakan dari pemerintah untuk menentukan pembangunan negara yang berkelanjutan dan berkesinambungan kedepannya. Jadi sudah sepantasnyalah diterapkan proses manajerial yang prima dan berkualitas nomor wahid dalam pengelolaan pendapatan nasional ini.

Minggu, 17 April 2011

Dampak Kenaikan Harga Bagi Pemerintah

Dampak kenaikan harga bagi pemerintah dapat berarti banyak. Salah satunya adalah inflasi ( gejala menigkatnya harga selama periode tertentu ). Inflasi disini dapat dilihat dari banyaknya jumlah uang yang beredar didalam masyarakat yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari dengan asumsi harga barang kebutuhannya meningkat.

Ketika banyak uang yang berdedar dimasyarakat dan menurunnya jumlah uang yang ditabungkan maka akan menciptakan inflasi yang mempengaruhi nilai tukar mata uang nasional terhadap mata uang asing. Jadi kenaikan harga ini dapat menjadi sebuah indikator bagi pemerintah tentang adanya inflasi.

Inflasi ini juga akan dapat mempengaruhi nilai dari devisa suatu negara. Karena biasanya nilai devisa ini dalam bentuk mata uang asing, sehingga mekanisme penentuan nilainya berdasarkan nilai tukar mata uang nasional dengan nilai mata uang asing.

Dalam kenaikan harga disini perananan pemerintah cukup vital, artinya pemerintah mempunyai kekuatan untuk melakukakn pengawasan, pengontrolan, dan menetapkan kebijakan-kebijakan tertentu untuk mengendalikan kenaikan harga di pasar.

Misalnya, pada suatu waktu terjadi kelangkaan suatu komoditi ( misal cabai ) di pasar yang memicu kenaikan harga. Maka salah satu langkah yang cukup familiar adalah dengan melakukan operasi pasar. Operasi ini bertujuan untuk menyeragamkan harga komoditi. Sehingga nantinya produsen yang menimbun cabai akan melepas komoditi cabai kembali ke pasar. Selain itu, pemerintah juga dapat melakukan penetapan harga baku yang berlaku untuk suatu komoditi. Cara-cara tersebut tentunya digunakan untuk menormalkan situasi harga pasar.

Pemerintah juga dapat menetapkan kebijakan salary cap ( batasan gaji ) untuk membantu perusahaan menyeimbangkan neraca keuangannya. Karena ketika kenaikan harga terjadi maka biasanya pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup sehari-hari dari para karyawannya akan meningkat sehingga dampak tersebut dapat memicu kenaikan gaji karyawan atau pegawai peruahaan. Kebijakan salary cap ini tentu saja dapat membantu perusahaan menghindari beberapa dampak terburuk, seperti kebangkrutan, deficit anggaran, pemutusan hubungan pekerjaan secara sepihak bagi para karyawannya, dan lain sebagainya.

Selain itu untuk menekan kelangkaan suatu komoditi atau suatu barang, pemerintah dapat melakukan kebijakan impor komoditi atau barang. Dengan melepaskan barang impor ke pasar, pemerintah akan menciptakan pasar saingan agar tersedia barang alternatif bagi konsumen. Dan tentu saja dengan harga yang lebih murah, sehingga harga barang dalam negri yang mengalami kelangkaan dapat turun dan kembali ke kisaran harga normal.

Jadi, dalam kenaikan harga ini pemerintah memiliki peranan yang sangat besar untuk menormalkan harga pasar lewat kebijakan-kebijakan yang dianggap paling tepat. Pemerintah juga menjadi sensor dan menjaga terhadap kemungkinan laju inflasi yang dapat mengganggu situasi, kondisi, dan stabilitas perekonomian nasional.

Dampak Kenaikan Harga Bagi Produsen

Produsen adalah pihak yang manghasilkan barang dan jasa untuk kemudian dihabiskan nilai gunanya oleh konsumen. Dampak kenaikan harga bagi produsen dapat dilihat pada perusahaan industri. Perusahaan industri adalah perusahaan yang mengolah suatu barang dengan bahan dasar atau setengah jadi menjadi barang siap pakai. Contohnya adalah industri sepatu, industry tekstil, dan lain sebagainya.

Mengingat hal itu, maka perusahaan industri mutlak membutuhkan adanya bahan baku dasar untuk menjalankan kegiatan produksinya. Ketika terjadi kenaikan harga terhadap bahan baku, maka ongkos produksi yang dikeluarkanpun otomatis akan bertambah. Sehingga harga pokok dari barang yang diproduksi juga ikut meningkat.

Jika hal itu terjadi, maka akan dapat mempengaruhi selera konsumen untuk memilih barang atau komoditi tersebut. Konsumen akan mencoba untuk mencari barang atau komoditi altenatif lain dengan nilai guna sama dan harga yang lebih murah untuk menggantikan barang tersebut. Hal tersebut tentu saja dapat merugikan produsen, karena dampak kenaikan harga dapat memunculkan saingan baru bagi produsen.

Kenaikan harga juga dapat berpengaruh pada faktor produksi lainnya, yaitu tenaga kerja. Tentu saja yang dimaksud disini adalah gaji. Artinya budget yang harus dikeluarkan oleh suatu perusahaan untuk menggaji para karyawannya akan bertambah besar. Mengingat selain sebagai faktor produksi para karyawan juga merupakan seorang konsumen.

Jika kenaikan harga ini tidak dapat dikendalikan atau dinormalisasikan, maka dampak terburuk bagi suatu perusahaan atau produsen adalah kebangkrutan dan PHK bagi sebagian karyawannya. Dan tentunya dalam proses normalisasi ini nantinya akan sangat dibutuhkan peranan dari pemerintah.

Kadangkala, ketika kenaikan harga sedang terjadi pada suatu komoditi ( yang paling sedang dicari ), maka produsen yang dapat menangkap situasi pasar dengan cepat, cermat, dan cerdas akan melakukan beberapa cara yang dapat merusak harga pasar, sehingga nantinya dapat mengontrol dan mengkatrol harga komoditi tersebut.

Salah satu cara yang paling umum digunakan adalah dengan melakukan penimbunan barang atau komoditi pada suatu waktu untuk kemudian dilepas kembali ke pasar pada waktu yang dianggap tepat. Hal tersebut akan menyebabkan terjadinya kelangkaan barang atau komoditi ( yang paling sedang dicari saat itu ) di pasar. Kelangkaan ini akan memicu terjadinya banyak penawaran terhadap barang atau komoditi tersebut. Sesuai dengan bunyi hukum penawaran, “Semakin tinggi harga, maka jumlah penawaran semakin bertambah, dan sebaliknya”. Tujuan dari pengendalian harga ini jelas, yaitu untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.

Jadi dapat dilihat bahwa tidak selamanya pihak produsenlah yang selalu diuntungkan dari dampak kenaikan harga ini, meskipun merekalah pihak yang punya cukup potensi untuk memperoleh keuntungan secara material, akan tetapi dengan peranan pemerintah untuk mengawasai kondisi pasar secara berkesinambungan maka cara-cara yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh produsen tadi ( penimbunan barang, dan lain sebagainya ) maka akan dapat dicegah dan diminimalisir.

Dampak Kenaikan Harga Bagi Konsumen

Kenaikan harga dalam ekonomi, baik itu dalam hal nilai barang dan jasa tentunya akan memberikan dampak tertentu bagi beberapa pihak. Dan biasanya pihak yang paling merasa dirugikan dari efek kenaikan harga adalah konsumen. Konsumen sebagai pihak terakhir yang menikmati nilai guna dari barang dan jasa senantiasa bersuara paling lantang menentang kenaikan harga, karena tentunya hal ini akan menambah anggaran konsumsi mereka sehari-hari.

Sebagai sebuah contoh sederhana, adalah makan. Makan merupakan sebuah contoh kebutuhan dari manusia yang bersifat primer, artinya tidak bisa ditangguhkan pemenuhan kebutuhannya. Ketika harga bahan baku dari suatu makanan mengalami kenaikan harga, tentu saja harga makanan itu pun akan terkatrol naik. Hal tersebutlah yang dapat kita pandang sebagai suatu efek domino.

Dampak kenaikan harga makanan tersebut memang tidak mutlak berdampak pada seluruh tingkatan konsumen. Mungkin yang paling merasakan dampaknya adalah para konsumen dengan pendapatan tingkat rendah dan beberapa dari tingkat menengah dengan asumsi pendapatan mereka adalah tetap. Sedangkan bagi para konsumen dengan tingkat pendapatan yang tinggi hal tersebut tidak begitu berpengaruh terhadap pola maupun jenis konsumsi mereka. Bagi para konsumen dengan tingkat pendapatan yang rendah, harga makanan yang mahal tentunya secara tidak langsung akan dapat merubah pola dan kebiasaan konsumsi mereka.

Misalkan ada seorang konsumen dengan tingkat pendapatan yang rendah makan disuatu warung makan. Biasanya dengan uang sebesar Rp.7000, dia dapat membeili nasi lengkap dengan sayur, telur dadar dan es the manis. Tetapi ketika terjadi kenaikan harga bahan baku makanan, maka dengan jumlah uang yang sama ia hanya memperoleh nasi dengan sayur saja. Dari ilustrasi tersebut dapat kita lihat telah terjadi perubahan pola konsumsi.

Kenaikan harga secara tidak langsung juga dapat berpengaruh terhadap kegiatan menabung. Semakin tinggi kebutuhan sehari-hari seorang individu, maka porsi dari reward ( gaji ) yang diterimanya pada setiap bulan akan cukup tinggi diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya. Jadi porsi gaji untuk ditabungkan akan sedikit berkurang jumlahnya. Selain itu juga, jika kenaiakan harga harga ini berlangsung pada saat terjadinya inflasi ( gejala yang menunjukkan kenaikkan tingkat harga umum yang berlangsung terus-menerus selama satu periode tertentu ), maka konsumen akan dirugikan dari sisi suku bunga tabungan yang lebih rendah dari pada tingkat inflasi.

Dampak kenaikan harga, memang secara umum dikonotasikan sebagai suatu hal yang negatif. Tetapi, dari hal tersebut seseorang dapat mengambil sisi positifnya. Seperti, seseorang akan dapat kembali menumbuhkan sifat hemat dalam dirinya. Sehingga dia dapat dengan cermat menentukan kapan waktu yang tepat untuk memenuhi kebutuhannya ( khususnya kebutuhan yang bersifat tersier ).